SALAM MARIA PENUH RAHMAT, TUHAN SERTAMU. TERPUJILAH ENGKAU DI ANTARA WANITA, DAN TERPUJILAH BUAH TUBUHMU YESUS. SANTA MARIA BUNDA ALLAH, DOAKANLAH KAMI ORANG YANG BERDOSA INI, SEKARANG DAN WAKTU KAMI MATI. AMIN.

INSTALASI USKUP AGUNG MEDAN

Hari Minggu 22 Februari 2009 merupakan hari bersejarah bagi Gereja Keuskupan Agung Medan, karena paa hari itu diadakan Instalasi Uskup Agung yang baru: penyerahan tongkat penggembalaan dari Mgr. A.G.Pius Datubara kepada Mgr. Anicetus B. Sinaga.

Pelayanan dan Pastoral (Umat Nias)

Pada hari Kamis - Jumat 26 s/d 27 November 2009, Pastor Anton bersama bapak S. Barasa, bapak T. Manao, Suster Margareta KSSY, Siprianus Manao dan Andre berkunjung ke stasi Panuntungan.

HIDUP BERMAKNA : BERBAGI BEKRAT

Apapun pemikiran orang, yang pasti adalah bahwa hidup yang bermakna dan menjadikan seseorang itu bahagia adalah bila seseorang itu bersyukur atas hidupnya sebagia karunia yang besar dari Tuhan.

NATAL MUDIKA 2009: SUKSES

UCAPAN TERIMA KASIH KARENA NATAL MUDIKA 2009 'BERTABUR BINTANG' BERJALAN DENGAN SANGAT BAIK.

PAROKI: SEJARAH KATOLIK DI DAIRI

MISI KATOLIK DI DAIRI (SEJARAH SINGKAT PAROKI SIDIKALANG).

PEMBANGUNAN GEREJA KATOLIK STASI SANTO PETRUS – LAE TARONDI PAKPAK BHARAT

Berdirinya Gereja Katolik di Salak ibukota Kabupaten Pakpak Bharat berawal dari kesepakatan lima keluarga umat Katolik yang ada saat itu.

Tampilkan postingan dengan label Kegiatan n Pastoral Paroki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kegiatan n Pastoral Paroki. Tampilkan semua postingan

Pelayanan dan Pastoral (Umat Nias)

PELAYANAN KE PANUNTUNGAN



Pada hari Kamis - Jumat 26 s/d 27 November 2009, Pastor Anton bersama bapak S. Barasa, bapak T. Manao, Suster Margareta KSSY, Siprianus Manao dan Andre berkunjung ke stasi Panuntungan.
Semula ibu Vera Sinaga,anaknya Dionisius Raja Ernesto Cibro dan Frans Jumadi ikut dalam pelayanan tersebut. Namun di tengah perjalanan, beliau mendapat telepon bahwa anak itonya yang baru 2 hari lahir ternyata meninggal dunia. Maka dengan berat hati setelah tiba di Subulussalam Penanggalan mereka balik kembali ke Sidikalang bersama Saudara Frans dan mereka langsung ke Medan.


Malam hari Pak Manao dengan bahasa Nias mengadakan pendalaman iman bagi umat. Bapak Manao kaget dan terheran-heran karena ternyata hampir semua umat belum tahu membuat TANDA SALIB. Walaupun demikian, pelayanan itu tetap seru dan mengasyikkan.

Pagi harinya, pastor Antonius Manik O.Carm mempersembahkan perayaan Ekaristi dengan menggunakan bahasa Nias. Dalam perayaan Ekaristi tersebut sekaligus diadakan baptisan bayi, convalidatio dan pelantikan pengurus Gereja Stasi.




Pastor Anton Manik O.Carm

MISA INKULTURASI BAHASA SIMALUNGUN

MISA INKULTURASI BUDAYA DAN BAHASA SIMALUNGUN
Dalam Rangka Bulan Kitab Suci Nasional
13 September 2009

Demikianlah kiranya tanda salib dan pembukaan dalam perayaan Ekaristi berbahasa Simalungun. Misa Inkulturasi dalam budaya dan bahasa Simalungun ini merupakan Minggu kedua dalam bulan Kitab Suci yangmana dalam merayakan bulan Kitab Suci Nasional ini. Paroki Maria Pertolongan Orang Kristen Sidikalang mengisinya dengan misa Inkulturasi. Perayaan Ekaristi ini dipersembahkan oleh Pastor Paroki yakni Pastor Antonius Manik O.Carm. Beliau memang bukan orang Simalungun, tetapi beliau lahir dan besar di Daerah Simalungun yakni tepatnya di Pematang Siantar. Walaupun pastor Anton tidak begitu pasih dalam berbahasa Simalungun, beliau dengan penuh iman, penghayatan dad an perayaan ini berjalan dengan penuh hikmaht.
Di sini kami sampaikan jalannya perayaan tersebut melalui beberapa foto selama perayaan:







































RAMAH TAMAH

Seperti biayasanya, sesudah perayaan Ekaristi diadakan ramah tamah di Aula. Etnis yang bertugas saat itu, mengundang dan menjamu undangan yakni mewakili umat: Pastor, Para suster, Dewan Pastoral Paroki, para pengurus lingkungan, kelompok koor dan beberapa umat. Sebelum acara ramah tamah yakni makan bersama, diadakan acara manorto bersama. Umat yang etnis Simalungun merasa kembali ke kampung halamanan mereka di tanah Simalungun. Tentu dengan demikian akhirnya mereka merasa, bahwa Gereja Katolik / paroki juga menjadi rumah 'mereka'.






























TARIMA KASIH



MISA INKULTURASI DALAM BUDAYA DAN BAHASA PAK-PAK

MISA INKULTURASI DALAM BUDAYA DAN BAHASA PAK-PAK
DALAM RANGKA BULAN KITAB SUCI NASIONAL


Dalam rangka merayakan Bulan Kitab Suci Nasional September 2009 ini, paroki kembali mengadakanmisa Inkulturasi dalam budaya dan bahasa daerah. Dalam kegiatan ini dimaksudkan bahwa Sabda Allah diperuntukkan bagi semua bangsa, suku dan bahasa. Sabda Allah menyapa semua orang dan Sabda Allah itu mempersatukan semuanya dalam Yesus Kristus dan keselamatanNya. Selain untuk tujuan itu, kegiatan ini juga untuk melestarikan budaya bangsa, menanamkan rasa cinta umat terhadap budaya sendiri dan juga budaya sesama. Dengan demikian tertanamlah rasa cinta akan Gereja katolik yang kaya akan ajaran iman, kaya akan suku, bangsa dan bahasa, tetapi ada dalam satu iman. Tentunya juga ditanamkan sikap saling menghargai satu sama lain, serta mengajak umat agar menjadikan Budaya dan Bahasa sendiri juga sebai jalan untuk mewartakan keselamatan dan mewartakan Sabda Allah. Kegiatan ini sudah dimulai sejak September 2008 yang lalu. Pada awal memulai kegiatan ini, antosiasme umat kurang tampak, mengingat persiapan yang harus mereka lakukan. Namun berdasarkan evaluasi setelah kegiatan tahun 2008, pada umumnya semua umat meminta agar kegiatan ini terus dilakukan dan menjadi kegiatan rutin umat lingkungan kota setiap bulan September dalam rangka merayakan bulan Kitab Suci Nasional.Atas harapan dan kerinduan itulah, maka tahun ini kembali diadakan kegiatan Misa Inkulturasi dalam bahasa dan Budaya.
Adapun jadwal kegiatan adalah:
Minggu 6 September 2009: Misa dalam budaya dan Bahasa Pakpak
Minggu 13 September 2009 : Misa dalam Budaya dan Bahasa Simalungun.
Minggu 20 September 2009 : Misa dalam Budaya dan Bahasa Karo
Minggu 27 September 2009 : Misa dalam Budaya dan Bhasa Batak Toba
Minggu 4 Oktober 2009 : Misa dalam bahasa Nasional
(Dalam hal ini digabunglah beberapa Budaya, suku yang ada di paroki selain ke empat suku di atas. Misa dilaksanakan dalam bahasa Indonesia, tetapi yang bertugas adalah umat yang dari Suku Jawa, Flores, Nias, China dll)
Yang bertugas dan bertanggungjawab atas semua persiapan menyangkut dengan semunya, diserahkan kepada kelompok Suku yang bertugas saat itu. Sepanjang perayaan pada waktu kegiatan tersebut berlangsung dalam budaya dan bahasa yang mendapat giliran, kecuali kotbah tetap dalam bahasa Indonesia. Untuk memperlancar jalannya misa, sebelum perayaan Ekaristi mulai, umat dilatih terlebih dahulu dan kepada masing-masing umat disediakan teks perayaan.

PERAYAAN EKARISTI BUDAYA DAN BAHASA PAK-PAK

Mengawali kegiatan misa inkulturasi ini, diawali dalam bahasa Pak-pak. Budaha dan Bahasa Pakpak ditempatkan pada urutan pertama karena memang paroki ada dan berada dalam wilayah suku Pak-pak. Jadi sebagai rasa syukur, hormat Gereja pada Budaya dan Bahasa Pak-Pak yang menjadi tempatnya berada, maka kegiatan ini selalu diawali dengan bahasa dan Budaya Pak-Pak.Perayaan Ekaristi dalam Budaya dan Bahasa Pak-Pak kali ini langsung dipimpin oleh seorang pastor yang memang dari suku Pak-Pak yakni Pastor Ciprianus Barasa Ofm.Cap. Beliau sengaja diundang dari paroki Aek Kanopan. Tahun sebelumnya perayaan Ekaristi dalam Bahasa Pak-pak dipimpin oleh pastor paroki sendiri yakni Pastor Antonius Manik O.Carm, beliau memang bukan dari suku Pak-Pak tetapi sudah lumayan bisa dalam Budaya dan Bahasa Pak-Pak. Dalam perayaan Ekaristi kali ini, pastor paroki menjadi conselebran.
Perayaan ekaristi berjalan hikmat dan semua umat dapat mengikutinya. Bahkan antusiasme umat sungguh besar, mengingat banyaknya jumlah umat yang hadir bila dibandingkan dengan misa hari minggu seperti biasanya.

Dalam kegiatan Ekaristi ini, akhirnya tercatatlah bahwa umat katolik yang adalah Suku Pak-Pak ada sekitar 70 kepala keluarga. Mereka akhirnya berkumpul dan membentuk kelompok doa umat katolik yng berbahasa pak-pak. Kelompok ini menjadi sejenis kelompok kategorial dalam Paroki. Pada perayaan Ekaristi tersebut, pastor paroki langsung meneguhkan kepengurusan kelompok doa tersebut.


Setelah perayaan Ekaristi, ekgiatan diteruskan dengan ramah tamah bersama di Aula paroki. Segala sesuatu yang dibutuhkan dalam ramah tamah tersebut (makan dan minum bersama ) disediakan oleh kelompok tersebut dan yang diundang turut dalam ramah tamah tersebut ialah semua umat katolik dari paroki yang berbahasa Pak-pak, para pastor, para suster dan mewakili umat yakni para Dewan Pastoral Paroki dan para pengurus lingkungan.

Kesan dari umat khususnya dari umat katolik yang berbahasa Pak-Pak, mereka berterima kasih kepada
Gereja karena membuat kegiatan ini. Mereka sendiri merasa bahwa mereka belum pernah terlibat langsung dalam kegiatan-kegiaitan suku Pak-Pak dalam kehidupan sehari-hari dan bahakn boleh dikatakan hamper lupa dengan Budaya mereka. Karena kegiatan ini, mereka merasa diajak kembali untuk menggali, dan mencintai budaya Pak-Pak. Salah satu tindakan konkrit yang mereka hendak wujudkan adalah:
1. Mengupayakan pakaian adat dalam keluarga masing-masing.
2. Mengadakan doa-doa bersama.
3. Mengupayakan Adat dan Budaya Pak-pak jadi jalan mewartakan Sabda Allah dan Iman Katolik di Daerah Pak-pak. Pendek kata, semuanya puas dan tetap berharap bahwa kegiatan ini tetap dilajutkan untuk kemudian hari. Lias ate.

Karmel Cup ke-9

KARMEL CUP KE-9



(tulisan ini merupakan Sajian Khusus yang disadur dari Majalah Menjemaat No.8/XXXI/agustus 2009, tulisan Eka Dan Anne. Mereka dari Majalah Menjemaat yang meliput kegiatan Karmel Cup. Tulisan yang kami sadur ini merupakan bentuk publikasi kegiatan paroki lewat Majalah Menjemaat KAM, dan kami juga ingin mempublikasikannya lebih luas lagi.)
Kegiatan Carmel Cup IX dan perayaan syukuran 800 tahun Regula Carmel diadakan di Paroki Maria Bunda Pertolongan Orang Kristen, JL. Merga Silima 1, Sidikalang. Bertemakan "Menjadi Generasi Muda Katolik yang Beriman dan Berkualitas", kegiatan ini dihadiri oleh 525 mudika yang berasal dari paroki-paroki dalam naungan Carmel. Kegiatan Carmel Cup IX yang dirayakan sekali dalam dua tahun ini diawali dengan misa pembukaan yang dipimpin oleh Uskup Emeritus, Mgr. A.G.Pius Datubara, OFMCap. Kegiatan ini memiliki keistimewaan tersendiri clibandingkan dengan kegiatan Carmel Cup sebelumnya. Keistimewaan itu sendiri dituturkan oleh P. Bernard, O.Carm, Ketua Komisariat Karmel di Sumatera sebagai berikut :"Awalnya kegiatan ini berasumsi hanya untuk memperebutkan juara clan piala bergilir. Lalu karena pemenangnya masih diraih oleh paroki tertentu selama beberapa kali sehingga ada anggapan para mudika yang datang hanya untuk meraih juara saja, maka dilakukanevaluasi terhadap tujuan Carmel Cup itu sendiri. Yang lebih ditekankan adalah membangun persaudaraan diantara kaum muda. Hal lainnya bahwa kegiatan ini diadakan bertepatan dengan waktu liburan yang panjang sehingga bisa diadakan pembinaan. Dan terakhir Carmel Cup IX berawal dari semangat para karmelit sendiri yang melayani paroki-paroki untuk mengembangkan generasi muda supaya sadar akan kehidupan menggereja clan bukan membentuk suatu kelompok pelayanan Carmel sendiri terlepas dari Keuskupan. Yang menjadi tujuan utama adalah pembauran dan penyadaran diri bahwa identitas muda­mudi adalah bagian dari Keuskupan Agung Medan".
Selain itu, juga dirayakan syukuran 34 tahun karya kegembalaan Bapa Uskup Emeritus, Mgr. A.G.Pius Datubara, OFMCap. Sebagai tanda diawalinya kegiatan Carmel Cup IX, maka pemukulan gong serta pelepasan baton secara langsung dilakukan oleh Bapa Uskup. Berbagai kegiatan diadakan, antara lain: lomba baca Kitab Suci dan mazmur, paduan suara, pertandingan bola voli putera dan puteri. Selain itu berlangsung fragmen singkat tentang Panggilan hidup membiara. Pada Rabu, 1 Juli 2009 beberapa perwakilan mudika didampingi beberapa pastor karmel serta panitia mengadakan kegiatan penanaman pohon di tiga stasi paroki Sidikalang, yaitu di stasi Bangun, Pangiringan, dan Simahopuk. Acara penutupan diakhiri dengan misa penutupan, serta pengumuman juara. Para pemenang lomba Mazmur diraih oleh mudika dari Kisaran. Sedangkan untuk Lomba Koor diraih mudika dari Paroki Kisaran. Untuk lomba Kitab Suci, diraih mudika paroki T. Balai. Dan para pemenang pertandingan Voli Puteri adalah mudika Tanjung Balai dan pertandingan voli putera diraih oleh mudika paroki Perdagangan. (Eka Dan Anne)

DEVOSI KEPADA BUNDA MARIA

ORANG BATAK DAN DEVOSI
Banyak orang mengatakan bahwa orang Batak tidak punya jiwa berdevosi, juga kepada Maria. Ada berbagai alasan yang diberikan atas pendapat tersebut; misalnya: Ada berapa banyak Gua Maria atau tempat Ziarah yang ada di Sumatera Utara ini? Tentu tidak seperti di jawa dan di tempat-tempat lain yang jumlahnya sangat banyak. Kalaupun ada tempat Ziarah, berapa banyak umat katolik yang berziarah ke sana? Tentu tidak sperti di tempat-tempat lain yang selalu dipadati para peziarah. Kalaupun di SuMut ada, misalnya di Maria Velankani di Tanjung Selamat Medan, di Taman Wisata Iman Sidikalang, tapi tidak orang yang sungguh-sungguh pergi ke sana untuk berziarah / berdevosi, umumnya ke sana untuk jalan-jalan saja.
Contoh juga di paroki kita di Sidikalang, ada Gua Maria yang sangat indah dan menelan biaya ratusan juta untuk membangunnya. Namun berapa umat yang menggunakannya sungguh-sungguh?
Mungkin data itu boleh benar, tetapi tentu bukan berarti dalam diri orang Batak tidak ada Jiwa Devosi (penghormatan kepada yang ILAHI dan orang-orang kudus). Justru orang Batak punya Religiositas yang sangat besar, sehingga dari dalam diri dan budaya Batak jiwa berdevosi itu punya potensi yang sangat besar pula. Ini sebenarnya menjadi suatu salah satu jalan bagi Gereja Katolik untuk masuk dalam budaya orang Batak. Orang katolik di sumatera Utara juga punya Devosi kepada Bunda Maria, hanya memang kurang ditampakkan mengingat hidup dalam lingkungan hidupnya yang mayoritas Protestan yang mana penghormatan Katolik kepada Maria sudah menjadi tantangan iman. Karena bagi Protestan, menghormati Maria dianggap suatu ‘pengilahian’ manusia selain Allah, karena Tuhan Allah yang Ilahai dan harus disembah. Paham orang Protestan itu jelas keliru. Katolik bukan mengilahikan Maria, bukan menyembah, tetapi menghormatinya sebagai Ibu Tuhan, perantara kehadiran keselamatan Allah, menghormati Maria sebagai teladan iman. Banyak lagi jawaban Katolik yang sebenarnya bisa dipakai untuk menjawbai ‘keberatan’ pihak protestan. Tapi kenyataannya BANYAK UMAT KATOLIK TIDAK MENCOBA MENCARI TAHU ajaran Katolik sehubungan dengan hal tersebut. Mungkin karena hal itulah salah satu penyebap bahwa umat Katolik khususnya Batak kurang tampak dalam devosinya kepada Maria.
Akan tetapi pada hari Senin 25 Mei 2009 sembilan, di paroki kita ada suatu peristiwa yang sangat luar bisa, yakni lingkungan MARIA RATU DAMAI - Sidikalang, mengadakan Devosi kepada Maria yang menjadi pelindung lingkungan mereka. Lingkungan ini mengadakan PERARAKAN BUNDA MARIA mulai dari jalan Boang menuju Gua Maria yang ada di Gereja Paroki. Di Gua Maria ditutup dengan misa penutup olah P. Antonius Manik O.Carm dan dan juga diakhiri dengan makan laffet bersama. Ini merupakan suatu peristiwa iman yang luar biasa. Kegiatan itu diikuti dengan banyak umat lingkungan Maria Ratu Damai, juga lingkungan lain. Allah sungguh berperan dalam kegiatan tersebut.
Perarakan dimulai pukul 7 malam, Patung Munda Maria diarak di atas kendaraan pik up, sedangkan umat berjalan di belakang patung bunda maria dengan memang lilin di tangan. Peserta dengan penuh keyakinan berarak sambil mendaraskan nyanyian dan doa Rosario. Saat perarakan hingga awal Ekaristi lampu di Dairi Padam. Namun dengan padamnya lampu justru menambah keagungan kegiatan tersebut. Di sepanjang jalan yang dilalui, semua orang melihat dan pasti mereka terkagum-kagum. Pandangan orang banyak yang dilalui, yang tentunya mereka Protestan, tidak membuat mereka merasa terganggu. Dalam hal ini Perarakan Patung Bunda Maria, bukan untuk show tetapi penghayatan iman kepada Yesus lewat devosi kepada ibu-Nya Maria. Dengan kegiatan tersebut, umat seakan berkata, “Ini kami Katolik yang menghormati Maria”.
PROFICIAT bagi Pengurus dan Lingkungan MARIA RATU DAMAI. Mungkin baru ini pertama kali di lakukan di paroki Sidkalang. Ini menjadi suatu bukani tidak benar opini yang mengatakan bahwa orang Batak tidak punya jiwa Devosi juga kepada Maria. Orang banyak sangat mempunyai Devosi, hanya kurang berani menghayatinya.
Semoga apa yang mereka lakukan menjadi dorongan bagi yang lain, juga umat separoki agar berani menghayati iman Katoliknya dan Devosi kepada Maria.

PASTORAL DAN PELAYANAN

HIDUP DALAM PELAYANAN
PENUNTUNGAN...
MENUJU... PERUNTUNGAN!



Pengantar

Hari Senin, 13 Agustus 2007 pukul 06 pagi, Di Tengah Hutan

Penuntungan sebuah perkampungan terpencil di tengah hutan, dihuni sekitar 25 KK umat Katolik perantau dari Nias Selatan, umumnya dari Kecamatan Amandaya dan Togizita. Awalnya sekitar awal tahun 2000 beberapa bapak-bapak berangkat dari Nias Selatan ke Singkil, Aceh Selatan menjadi buruh pundak kayu tebang (lodging) yang marak dan menjanjikan uang pada masa itu. Kemiskinan dan kesulitan mata pencaharian di Amandaya dan Togizita, Nias Selatan membuat mereka eksodus.
Ketika belakangan ini illegal lodging dilarang, sangat berdampak bagi kehidupan mereka. Mereka kehilangan pekerjaan. Ada sebagian terpaksa pulang kampung ke Nias, namun sebagian berjuang mempertahankan hidup di Aceh Selatan dengan berburu Babi Hutan ke hutan belantara secara berkelompok. Lelah dalam pengembaraan di hutan ini membuat mereka sampai pada suatu tempat perhentian yaitu Penuntungan. Di tengah hutan Penuntungan ini mereka mencoba menggarap lahan untuk bercocok tanam. Akhir tahun 2004, ketika terjadi gempa yang memporakporandakan harta benda dan merenggut jiwa sebagian keluarga yang mereka tinggalkan di Nias, membuat mereka pulang ke Nias dan memboyong keluarga ke Penuntungan, Aceh Selatan. Awal tahun 2006 pernah 35 KK orang Nias yang tinggal di Penuntungan dengan menempati gubuk-gubuk yang sangat tidak layak. Bisa satu gubuk dihuni oleh tiga kepala keluarga.
Perkampungan Penuntungan hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki selama 4 jam perjalanan dari Penanggalan, ibukota suatu kecamatan di Kotamadya Sumbulsalam, menyusuri lereng bukit, hutan belantara, dan menyeberangi sungai. Jika mereka ingin menjual hasil perladangan dan buruannya serta membeli kebutuhan-kebutuhan hidup, mereka harus menempuh waktu dan jarak yang sangat jauh dengan berjalan kaki ke Penanggalan.


Terisolasi

Keterisolasian ini membuat mereka tertutup dari banyak informasi dan pelayanan publik. Anak-anak usia sekolah yang cukup banyak di kampung ini tidak pernah mengecap pendidikan formal berupa sekolah. Tampak dari perangai anak-anak mereka bahwa asupan giji sangat buruk dan tak pernah ada pelayanan kesehatan bagi mereka. Luputnya mereka dari perhatian dan layanan pihak pemerintah, tidak hanya karena sulitnya medan, tetapi juga karena mereka di wilayah “Serambi Mekah”, yang sebelumnya mereka tidak mengerti apa itu.
Warga sekitar tentu tidak menghendaki keberadaan mereka. Setiap ada orang mengunjungi mereka selalu dicurigai oleh warga sekitar. Ruang gerak pelayanan iman terhadap mereka selalu terbatas.

Titik Terang


Setelah Pastor Antonius Manik, O.Carm dengan berbagai cara mengadakan kontak dan mengunjungi umat di Penuntungan, seberkas sinar mulai menembus kegelapan hidup mereka. Lokasi untuk perkampungan bisa dibeli dari pemilik ladang warga setempat di lokasi yang lebih baik, karena sebelumnya mereka mendirikan gubuk-gubuk di daerah yang sering banjir ketika sungai Penuntungan meluap. Beberapa anak mereka disekolahkan di Sidikalang dan ada seorang sedang belajar di PGSD kelak diharapkan menjadi guru bagi anak-anak usia sekolah di tempat itu. Pembangunan rumah-rumah yang tertata di lokasi perkampungan sedang berjalan atas swadaya dan gotongroyong mereka serta sebagian dibantu paroki Sidikalang berupa atap seng, paku-paku, dan minyak singso.
Dalam menyertai kunjungannya ke Penuntungan, Pastor Antonius Manik, O.Carm, menuturkan kepada kami: “Langkah pertama untuk membebaskan mereka adalah menyadarkan mereka akan kenyataan bahwa mereka diliputi kemiskinan. Justru karena itulah sepertinya kepada mereka lama baru diberi bantuan, ada sekitar satu setengah tahun, baru kita realisasikan untuk membantu pembangunan pemukiman mereka. Kemiskinan mereka itu terjadi dalam segala bidang kehidupan.” Beliau mengatakan, apa gunanya membebaskan seseorang kalau dia tidak ingin dibebaskan? Mereka sendiri harus mengusahakan dan memperjuangkan kebebasannya, walaupun kebebasan itu adalah hak mereka. Mereka harus berbuat sesuatu. Ketika mereka sadar akan kemiskinannya, mereka mulai berjuang untuk membenahi diri. Ketika Pastor ini mulai yakin bahwa mereka sudah sadar akan kenyataan hidup mereka, ditandai dengan munculnya pemimpin dari antara mereka yang melaksanakan inspirasi mereka. Kini mereka telah mempunyai Kartu Tanda Penduduk, dengan itu diakui keberadaan mereka sebagai warga setempat. Status menetap dan pengolahan lahan pertanian walaupun masih sangat tradisional, meyakinkan Pastor Anton untuk membantu pendirian pemukiman bagi mereka. “Mobilitas sangat tinggi bagi perantau asal Nias ini. Awalnya mereka ada sekitar 60 KK tinggal di sini, tetapi kini yang bertahan hanya 24 KK. Yang lainnya kembali mengembara di hutan sambil berburu ‘Wangkah’ (Babi Hutan). 24 KK yang bertahan menetap inilah yang sekarang menjadi prioritas perhatian kita. Buah doa dari yang bertahan dan setia inilah yang kita salurkan sekarang”, ungkap Pastor yang suka bertukang ini.
Pastor Lukas Joko Prasetyo, O. Carm, yang turut dalam rombongan, yang baru pertama kali ke Penuntungan karena selama ini terbatas gerak kunjungan ke daerah itu oleh tuduhan kristenisasi, berkesan: “Perjumpaan dengan orang yang sangat sederhana, polos, dan haus akan “sentuhan” luar itu meneguhkan panggilan saya untuk semakin bersyukur kepada Tuhan dan semakin berbela rasa dengan orang-orang kecil.” Penulis semakin meneguhkan kesan Pastor ini sambil berseloro ketika melihat kaki beliau berlumuran darah akibat digigit pacat atau lintah setelah sampai di Penanggalan: “Bukan hanya hati Pastor yang didambakan mereka, tetapi darah Pastor pun harus tercurah bagi mereka, sebagaimana diisyaratkan dengan kucuran darah pastor itu”. Pastor yang gemar senyum ini pun tertawa.




Pastor Antonius Manik O.Carm, bergaya di depan Gedung serba guna yang digunakan unt8uk pembinaan anak-anak dan sekaligus sebagai Gereja.





(Sorang Tumanggor, S.Ag)




JUBELIUM PAULUS

GEREJA INDUK PAROKI
MERAYAKAN JUBILEUM PAULUS DAN BULAN KITAB SUCI NASIONAL DENGAN MISA INKULTURATIF
(Sorang Tumanggor S.Ag / Majalh Warta Paroki)

Dalam rangka merayakan Jubileum Paulus dalam Bulan Kitab Suci Nasional, Gereja Induk Paroki mengadakan Misa Inkulturasi mulai dari minggu pertama bulan September sampai minggu pertama Oktober.


Minggu pertama September diisi dengan Misa dalam budaya Pakpak, Minggu kedua dengan misa dalam budaya Simalungun, Minggu ketiga dalam budaya Karo, Minggu keempat dalam budaya Toba, dan Minggu pertama Oktober dalam budaya Nasional yaitu Cina, Nias, Jawa, dan Flores.

Semua etnis tersebut merupakan perwakilan dari etnis umat yang ada di Gereja Induk Paroki.
Menarik dalam Misa Inkulturasi ini, semua lagu dan bahasa serta persembahan memakai gaya dan bahasa etnis yang bersangkutan. Etnis bersangkutan juga memakai pakaian adatnya. Sangat terasa antusias umat dan etnis bersangkutan mempersiapkan diri dan mengikuti acara demi acara.

Usai perayaan Misa, etnis bersangkutan beserta seluruh petugas liturgi mengadakan makan bersama sambil ramah-tamah dan bersilaturahmi yang merupakan swadaya dari etnis bersangkutan.
Dalam evaluasi, semua etnis merasa perlu untuk melanjutkan Misa Inkulturatif ini minimal dalam setiap Bulan Kitab Suci Nasional dan mereka berjanji akan membuat persiapan lebih matang dan terencana.

Pastor Antonius Manik, O. Carm dalam setiap pengantarnya menghimbau umat agar meneladani Santo Paulus setelah perjumpaannya dengan Kristus yang bangkit, ia berubah total dari penghianat, pelaku kekerasan kekristenan menjadi pelayan dan rasul Yesus Kristus ke segala penjuru bangsa. Paulus menjadi pencinta Kristus yang lembut dan rendah hati. Paulus berani menegaskan dirinya, “Bagi saya hidup ini berarti Kristus. Satu hal yang saya inginkan yakni memahami Kristus untuk dapat mengalami kekuatan kebangkitan-Nya agar saya dapat menderita bersama dengan Dia”. Bagi Paulus menjadi rasul berarti menjalani sebuah proses yang panjang, melibatkan seluruh hidup dengan segala kesalahan, cobaan dan tantangan tersendiri. Paulus yakin bahwa kekuatan Kristus yang bangkit terus menyertainya.

Pastor Anton mengajak kita lewat Misa Inkulturatif dalam rangka Jubileum Paulus dan Bulan Kitab Suci Nasional ini, agar membaharui semangat dan menyadari bahwa tugas pokok sebagai orang Kristen: “Mewartakan Injil Tuhan”. Cinta Kristus mendesak kita untuk menjadi pewarta Injil-Nya. Tugas ini tak pernah selesai. Kita selalu menjadi pemula, memulai baru dari awal, membarui pelayanan dan pewartaan kita. Kita yakin Tuhan terus membimbing kita. Semoga pengalaman Damsyik Paulus menjadi pengalaman kita. Mari kita membiarkan Roh Kudus mengubah kita menjadi pelayan dan rasul bagi semua etnis, suku, dan bagi semua orang. Kiranya seperti Rasul Paulus kita pun berani berkata kepada orang-orang yang nyaris putus asa: Kristus adalah harapan kita satu-satunya!.

VISITOR

free counters

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites